Mengenal Sains Warga

Merit System akan terus menjadi agenda dunia keilmuan di Indonesia. Mengingat feodalisme lebih cepat diterima ketimbang merit system. Indikator paling nyata dari kenyataan ini adalah perayaan gelar akademis dibanding produktivitas publikasi di jurnal-jurnal ilmiah. Di negara-negara maju menjadi doktor sebagai pintu pertama menghasilkan penelitian-penelitian dibidangnya. Di Indonesia mencapai gelar PhD adalah tiket menjadi narasumber media dan pintu masuk cucuran proyek penelitian kebijakan. Disertasi menjadi karya terakhir dalam karir akademisnya.Parakitri menyebut gejala ini dengan menukil puisi Chairil Anwar, “Sekali berarti sudah itu mati”.
Akan tetapi ada secercah harapan bagi pengembangan sains dunia. Ia lahir justeru dari kehendak agar publik ambil bagian dalam penelitian ilmu pengetahuan. Citizen Science, Participatory Science, Public Participation in Scientific Research, Volunteer-based monitoring adalah beberapa istilah yang lazim dilekatkan pada gerakan sosial ini.
Sebelum ilmu pengetahuan modern mekar dan terspesialisasi, amatir bahkan pribadi yang curious akan suatu hal, akan mengumpulkan fakta, specimen, bukti-bukti apapun untuk menjawab keingintahuannya. Bisa jadi hasil penjelajahan ini mereka dokumentasikan sendiri atau dikirim ke ilmuwan bidang bersangkutan. Sebetulnya inisiatif ini menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan warga di dunia.
Profesionalisasi ilmuwan menjadi salah satu faktor yang mengerem perkembangan citizen science. Mengingat profesionalisme ilmuwan berarti birokrasi riset, sistem dan metodologi penelitian berikut politik akademis yang dibawa serta.
Kondisi lembaga penelitian ini belum ditantang secara serius oleh perkembangan teknologi informasi yang mengubah bukan hanya cara mengomunikasikan penelitian-penelitian ilmiah. Tetapi bagaimana pengetahuan ilmiah diproduksi, siapa saja yang berhak melakukan penelitian, bagaimana sistem informasi pengetahuan mesti dikumpulkan dan disebarkan.
Kita berhutang budi pada R.Bonney (2009) yang membagi partisipasi publik pada penelitian saintifik menjadi 3 :
Kontributor : rancangan penelitian ditangan ilmuwan dengan warga ikut mengumpulkan data
Kolaborator : warga dilibatkan dalam perancangan, pengumpulan data, analisa sampai penyebaran hasil penelitian yang desain besarnya digagas oleh ilmuwan.
Ko-kreator : posisi warga dan peneliti sejajar. Kedua pihak bersama-sama menentukan setiap proses penelitian.
Kualitas air, sejarah climate change, data cuaca, sebaran hewan dan tumbuhan, fenomena astronomi adalah beberapa bidang yang diteliti oleh para ilmuwan warga. Situs http://www.scientificamerican.com/citizen-science/ memuat proyek-proyek ilmu pengetahuan warga di Amerika Serikat. Bagaimana dengan di Indonesia? Ilmu Pengetahuan Warga banyak dimanfaatkan pada konservasi kura-kura, serangan buaya muara. Di Jember ada taman baca berinisiatif mengembangkan kelompok Ilmu Pengetahuan Warga di facebook https://www.facebook.com/ilmupengetahuanwarga/info?tab=page_info
Di Yogyakarta ada http://lifepatch.org/Lifepatch yang membuat laboratorium warga biologi dan elektronika. Awalnya berdiri di Malang tapi kini kantor pusatnya berpindah ke kota yang baru saja membranding diri “Yogya Istimewa” http://indonesiadragonfly.org/about/ , berhimpun para pencinta capung dan habitatnya.
Di Pekalongan patut dicatat inisiatif M.Sofi warga Ambokembang yang menciptakan sistem penghitungan penentuan hari raya sendiri. Public Area Service Pekalongan pernah menggelar rukyatul hilal via internet. Sayangnya inisiatif pribadi dan komunitas di kota batik dunia ini semacam kegiatan mengisi waktu luang belum serius dilembagakan.
Berkah dari Serba Terbuka
Padamulanya berkembang di kalangan pembuat program komputer. Semangat memberi sampai berbagi source code pemrograman telah membawa jejaring programmer ini menjelma menjadi komunitas open source yang besar. Kelembagaan open source berupa asosiasi tingkat dunia, lisensi dan prinsip-prinsip yang disepakati. Dengan tanda creative common attribution menciptakan banyak platform berbagi.
Rupanya fenomena ini mempengaruhi ilmuwan profesional yang peduli pada masyarakat melek sains. Diciptakan platform wiki berbagai bidang, mapping seperti platform ushahidi bahkan beberapa jurnal ilmiah membuka ruang review bukan hanya untuk kalangan sejawat (peer review) tetapi terbuka untuk ilmuwan warga. Peluang ini ditangkap dengan antusias oleh para ilmuwan warga yang sudah banyak di mayantara.
Ilmu Pengetahuan Warga dilihat dari Pekalongan
Pemerintah Kota Pekalongan bekerjasama dengan PDII LIPI dan BPPT telah mendirikan ristekin , virtual library dan pengurusan izin penelitian dan survey kota Pekalongan secara daring. Kita patut menyambut gembira atas terobosan kedua setelah digitalisasi perpustakaan dan arsip daerah. Ristekin ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan dunia akademis di Pekalongan akan khazanah referensi. Di dalamnya banyak buku babon dan jurnal ilmiah. Sejauh ini belum tertangkap tema atau bidang penelitian apa yang diprioritaskan.Masih mengesankan cermin dari khazanah pustaka PDII LIPI dan BPPT.
Sepertinya ristek dibuat untuk mengisi cloud yang masih banyak kosong dari server batiknet pemerintah kota Pekalongan dengan BPPT. Sebetulnya ini kesempatan emas untuk melahirkan ilmuwan warga-ilmuwan warga dari Pekalongan. Tugas para ilmuwan profesional merencanakan penelitian dan menciptakan platform online maupun offline untuk mengajak masyarakat Pekalongan meneliti. Bukankan kini merebak inisiatif warga dan komunitas yang tumbuh dari media sosial?

Djudjur Toto Susilo, konseptor program televisi Zero to Hero di Metro TV, mantan digital strategist Indonesia Mengajar Jakarta. Kini direktur Pustaka Cuwiri Pekalongan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *